Suku Badui itu Suka Bikin Cap Cay dan Sop

Bookmark and Share

Rabu malam 18 Mei 2011, saya tiba-tiba mendapat sebuah pencerahan untuk menulis sebuah renungan di blog ini, (busyet kaya apa aja...hehehe..)
Malam itu saya merenung, kenapa ya keadaan saya sulit seperti sekarang? Mo usaha konvensional, ga punya cukup modal, udah ada punya modal, pengalaman usaha ga ada jadinya pailit, dan sekarang kejar-kejaran ama tagihan KK (hiks... hiks..). But, a few days ago my thinkful on one story, here's a story (gaya nieh make English.. huahahaha). Kisah ini sangat menginspirasi saya, bagaimana seharusnya menyikapi sebuah masalah, beban hidup, kesesakan, dan sejenisnya... 
===================================================
Di sebuah kerajaan Cina tempo dulu, ada seorang raja yang bila berperang tidak pernah kalah, dia dan passukannya selalu memenangkan peperangan. Setelah lelah berperang sang raja beserta pasukannya istirahat di tanah lapang yang luas, sang raja duduk santai di bawah sebuah pohon yang rindang, begitu juga dengan seluruh pasukannya, mereka duduk di bawah pepohonan yang juga ada disekitarnya.
Setelah lama beristirahat sang raja mengajak beberapa panglima perangnya untuk bermain-main (latihan pedang.red). Mulailah mereka latihan pedang, sanng raja dengan semangat memainkan pedangnya begitu juga dengan beberapa panglimanya, tiba-tiba tanpa di sengaja dan diduga pedang salah satu panglimanya mengenai jari kelingking sang raja dan kelingking sang raja putus. Sang raja langsung terseungkur dan mengerang kesakitan (ya sakit lah, wong jarinya putus, bedarah lagi). Dengan penuh amarah, sanr raja memerintahkan anak buahnya yang lain untuk menangkap dan memenjarakan si panglima tersebut. Panglima tersebut sangat sedih dan tidak terima akan keputusan sang raja yang dinilainya sangat tidak bijaksana. Jadilah si panglima dipenjara dalam sel yang gelap.
Beberapa waktu kemudian, sang raja dan pasukannya berperang melawan suku Badui, suku yang terkenal suka memakan daging manusia dengan cara dijadikan sop dan cap cay, namun kali ini sang raja dan pasukannya rupanya kurang beruntung. Mereka kalah dalam berperang, bahkan kalah dengan mudah. Akhirnay sang raja dan pasukannya yang masih tersisa menjadi tawanan suku Badui.Seusai (sesuai maksudnya..hehe salah tulis) tradisi di suku Badui, bahwa tawanan perang akan menjadi santapan lezat suku Badui setelah menang berperang (klu kita di Indonesia, mungkin selamatan/syukuran). Para tawanan termasuk sang raja di bawa ke dapur istana suku Badui, untuk dijadikan santapan mereka nanti malam.
Namun, Chep berikut Koki di situ punya etika yang sudah mendarah daging. Etikanya, mereka tidak akan menjadikan orang yang cacat sebagi hidangan, karena bisa mengakibatkan kesialan dan malapetaka. Satu demi satu tawanan diperiksa, hampir semuanya lulus untuk dijadikan masakan berupa sop dan cap cay. Tibalah giliran sang raja, ketika Chep memeriksa sang raja dari ujung rambut sampai ujung tangan, tiba-tiba sang Chep terkejut karena melihat salah satu jari tangan sang raja, ‘hoiii.... ini orang pembawa sial, lihat jarinya ga ada sebilah. Lepaskan dia..!!!’ Teriak si Chep, lalu sang raja dilemparkan (dilepaskan. red) dan larilah sang raja menuju istanya.
Ketika sang raja datang dia disambut dengan penuh suka cita oleh rakyatnya, layaknya pejuang yang baru datang dari medan peperangan. Sang raja langsung memerintahkan pasukannya yang masih tersisa di kerajaannya untuk mengadakan pesta besar-besaran selama 7 hari penuh. Mereka berpesta dengan penuh suka cita tanpa henti, bahkan sang raja tak henti-hentinya bersyukur.
Tiba-tiba sang raja teringat akan si panglima yang telah mengakibatkan jarinya putus. Sang raja memerintahkan beberapa pengawal untuk menjemput si panglima di penjara. Sementara itu di penjara, si panglima terkejut ketika mengetahui dirinya dipanggil oleh sang raja, dalam hati si panglima berkata ‘bah, siyalan... apapula si raja ini, matilah aku bisa digantung ini’. Namun pengawal istana menjemputnya dengan sangat ramah, bahkan menyuruh si panglima untuk mandi dan memberikannya pakaian yang sangat indah, kemudian si panglima dibawa menghadap sang raja. Sang raja berkata ‘ambilkan dia sebuah cincin yang dihiasi dengan batu permata dan paling indah dari toko emas yang ada di negeri ini. Sebab inilah pahlawanku, karena jika tidak karena ketidaksengajaannya memotong jariku ini, aku tidak akan selamat dan tidak akan ada disini sekarang. Mungkin aku sudah dijadikan cap cay atau sop oleh suku Badui’.
Si panglima bangga karena sang raja memujinya dan memberikannya cincin, bahkan memberikannya tempat duduk kehormatan. Namun tiba-tiba ketika pesta sedang meriahnya, si panglima tiba-tiba menangis tersedu-sedu dan terharu. Seluruh orang yang ada dalam ruangan tersebut hening bahkan musikpun berhenti, keheranan melihat si panglima. Sang raja menanyakan penyebab si panglima menangis. Si panglima berkata ‘saya sangat bersyukur, karena tuanku memenjarakan saya waktu itu. Coba saja kalau saya bebas, tetunya saya akan ikut tuanku berperang dan menjadi tawanan kemudian akan dimasak seperti teman-teman hamba yang lainnya, hiks.... hiks...’. Sang raja tertegun dan ikut menangis bersama si panglima. (The End)

===================================================

 Wahyu yang saya dapatkan di Rabu malam, 18 Mei 2011 :
Segala sesuatu di muka bumi ini telah diatur secantik-cantik oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Bahkan setiap pergumulan, masalah, beban hidup, penderitaan, kesengsaraan, kebingungan, kesesakan, rasa ditinggalkan, dsb yang Tuhan ijinkan terjadi dalam diri saya, diri Anda bukan merupakan sebuah hukuman atau diluar Kuasa Tuhan. Tapi hal tersebut sengaja Tuhan ijiunnkan terjadi, karena Sang Maha Kuasa sangat mengasihi saya dan Anda.
Lhooo, koq bisa?? Coba kita renungkan, bagaimana jadinya jika jari sang raja ga copot, pastinya dia udah dijadikan cap cay atau sop. Trus si panglima kalau ga dipenjara, pastinya dia juga bakalan dijadikan santapan oleh suku Badui. Hahahaa... sadis kan, sadis donk.. Tapi rupanya Sang Maha Kuasa telah mengatur segala sesuatunya dengan sangat luar biasa.
Bahkan dalam kesesakan dan beban hidup yang saya hadapi saat ini, saya yakin bahwa saya sedang dibentuk untuk menjadi seorang pribadi yang SANGAT LUAR BIASA.
Jadi, sahabatku yang LUAR BIASA, mari MULAI DARI SEKARANG kita ubah pola pikir (mind set) dalam menyikapi/menghadapi apapun kesulitan, kesesakan, beban hidup, masalah yang terjadi dalam hidupmu dengan UCAPAN SYUKUR yang LUAR BIASA pada Tuhan. Imani/yakini, bahwa semakin berat kesesakan, permasalahan, beban hidup yang Anda hadapi saat ini berarti Tuhan sedang merancang/mempersiapkan Anda untuk menjadi seorang yang SANGAT LUAR BIASA di masa depan. Selalu berpikir positif, bahwa saya akan mampu melewati setiap tahapan yang sedang Tuhan sediakan bagi saya. Ok, sobatku.. Keberhasilan ditentukan oleh Anda, bukan orang lain.. Hehehe... Betul ga ??
Kesesakan akan membuat orang tahan uji, tahan uji akan membuat orang menjadi tekun, ketekunan akan membuat orang menjadi SUKSES LUAR BIASA.
Terima kasih, atas kesediaannya membaca renungan saya. Semoga Anda dan keluarga senantiasa diberikan kelimpahan dan kejayaan oleh Sang Maha Kuasa. Amin

{ 5 komentar... Views All / Send Comment! }

Ijal mengatakan...

Busyet dah... Ane kirain cerita misteri Gan. But, oke juga tuh buat renungan pribadi.

Travel Haji Plus mengatakan...

Keren... thanks ya

Sutantio E. Purwanto mengatakan...

Semoga saya tidak salah tulis.. hehe

Kren mengatakan...

mas bro, oke juga. tp terlalu panjang

Sutantio E. Purwanto mengatakan...

@ Kren : Terima kasih Bro.. Semoga bermanfaat.. ^_^

Posting Komentar